Embrio Spiritual perkembangan intelektual 30 April 2020- Montessori - Indonesia

info@semarang2000.com

“Embrio Spiritual: perkembangan intelektual”
30 April 2020

photo_2020-04-30_20-50-40

 
Pada periode perkembangan intelektual terlihat dari relasi bayi dengan lingkungannya melalui pembentukan bahasa. Pada tahap ini setiap ada kemasakan saraf-saraf bicara akan teridentifikasi melalui ketrampilan bayi dalam mengekspresikan dirinya melalui ekspresi wajahnya dan suara yang dibuat. Suara yang semula hanya tidak bermakna secara bertahap akan memiliki makna dan membentuk kata serta kalimat.

Perkembangan intelektual anak usia 0 hingga 3 tahun bisa dilihat pada diagram berikut :
DIAGRAM PERKEMBANGAN INTELEKTUAL ANAK 0-3 TAHUN
DIAGRAM04

Dari diagram dapat kita lihat beberapa aspek sebagai berikut :

Dari 0 – 3 bulan :
Tampak penguatan saraf-saraf pendengaran, pada usia 2 bulan bayi akan menengok bila mendengar sebuah suara.

Sekitar usia 4 bulan :
Semakin matang saraf penglihatannya. Bila kita amati bayi akan selalu memperhatikan bibir yang berbicara di dekatnya.

Sekitar usia 6 bulan :
Berkembang saraf-saraf bicara sehingga bayi mulai membuat suara-suara tiruan, mulai meraban dan menyerap bahasa dari lingkungannya.

Sekitar usia 10 bulan :
Bayi mulai mengerti bahwa suara yang dibuatnya memiliki makna, sehingga menjadi semakin menyukai membuat kata-kata untuk melihat reaksi orang di sekitarnya.

Sekitar 12 bulan :
Bayi sudah mulai membentuk kata-kata dengan arti yang jelas. Seperti mengatakan “mama” untuk memanggil ibunya atau mengenali orang-orang di dekatnya.

Sekitar 12 – 18 bulan :
Merupakan eksplorasi pembentukan kata-kata menjadi semakin luas dan mulai memahami kata-kata benda, sudah bisa memiliki ekspresi juga untuk menjelaskan apa yang dirasakan dan apa yang diinginkan melalui bahasa.

Sekitar 18 – 24 bulan :
Menjadi situasi keemasan dimana seorang anak sudah mulai bisa mengeksplorasi bahasa dengan membentuk kalimat dan bisa merangkai kata-kata dengan susunan tata bahasa dari yang sederhana hingga yang lebih kompleks.

Usia 24 – 36 bulan :
Diharapkan kemampuan anak berkomunikasi sudah menjadi lebih luas dan lebih bermakna.  Kemampuan memahami bahasa sudah lebih teratur dan komprihensif sehingga pada usia ini anak-anak sudah siap ajar atau masuk ke sekolah.

Dalam perkembangan bahasa sebagai manifestasi perkembangan intelektual cara seorang bayi belajar berbeda dengan cara belajar manusia dewasa. Manusia dewasa mempelajari bahasa dari tata bahasa dan menghafalkan kata serta memahami struktur bahasa sebagai konsep yang diamati dari lingkungan secara sadar sedang seorang bayi menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dan menjadikan dirinya sebagai bagian dari lingkungan agar bisa menyerap semua yang ditawarkan oleh lingkungan tanpa disadari. Oleh karena itu dimana bayi dilahirkan bahasa pertama yang dikuasainya adalah bahasa ibu, bahasa yang diperoleh dari orang paling dekat pertama dalam hidupnya.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa lingkungan saat di dalam kandungan ibu dan setelah dilahirkan hingga usia tiga tahun menjadi faktor terpenting dalam pembentukan kepribadian anak sebagai manusia ciptaan sempurna. Untuk itu sangat krusial membantu perkembangan anak ini dengan tidak memberikan hambatan baik karena aspek kultural, kebiasaan atau hambatan yang disebabkan kurang pemahaman akan tugas-tugas perkembangan embrio tersebut.

Salah satu contoh hambatan yang sering kita temukan dalam masyarakat adalah “membedong” (mengikat anak dengan selembar kain) pada saat tidur dengan asumsi bila dibedong anak bisa lebih lelap tidur  atau tidak rewel, perilaku ini akan menghambat perkembangan gerak anak dan perkembangan otot-otot tubuhnya. Kemudian memberikan minum dengan aturan jam yang ketat sehingga anak tidak mampu mengkomunikasikan dirinya dengan tangisan sebagai tanda lapar. Perlu diketahui sebelum kemampuan bahasa terbentuk komunikasi bayi dengan orang dewasa bisa dipahami dari bentuk tangisannya atau dari ekspresi wajahnya.

Salam
Agustina Prasetyo