Wanita itu bernama Maria Montessori 21 April 2020- Montessori - Indonesia

info@semarang2000.com

"Wanita itu bernama Maria Montessori"

21 April 2020

Wanita itu bernama Maria Montessori

Minat saya memahami metode pendidikan berawal saat saya mendapat kesempatan berkunjung ke Australia. Saya mengamati metode pengajaran anak-anak prasekolah dan taman kanak-kanak hingga sekolah dasar di Australia berbeda sekali dengan metode yang digunakan di Indonesia. Di Indonesia waktu itu anak sekecil apapun sudah diberikan pekerjaan rumah yang banyak dengan alasan berlatih di rumah dan konsep bermain tidak begitu tampak pada pendidikan pra sekolah maupun taman kanak-kanak, apalagi di sekolah dasar. Dari diskusi dengan pihak sekolah yang saya kunjungi mereka menjelaskan metode yang mereka gunakan adalah pendekatan pengajaran dengan nama pendekatan ABC. Pendekatan ini sangat populer di Australia. Para guru untuk mendapatkan hasil maksimal dari apa yang sudah diajarkan ke siswa wajib memahami teknik ABC atau situasi awal (A= antacedent), perilaku (B=behaviour) dan konsekuensi (C=consequences). Seingat saya dasar pendekatan ini lebih berorientasi pada siswa secara individual bukan secara klasikal seperti di Indonesia.
 

Begitu saya menyelesaikan kuliah saya di fakultas psikologi dan memulai berprofesi sebagai psikolog semakin besar minat saya untuk mempelajari tentang pendekatan pendidikan serta perkembangan manusia secara umum khususnya perkembangan anak dari lahir hingga usia lima tahun. Beruntung saya mendapatkan kesempatan mengamati perkembangan anak dari lahir hingga usia lima tahun pada suatu klinik bersalin di Semarang. Pada saat itu saya mulai mengenal nama Montessori. Saya sangat tertarik pada pendekatan Montessori karena saya pikir pendekatan ini merupakan pendekatan holistik yang memberikan dasar baik bagi perkembangan manusia. Manusia tidak dilihat sebagai satu entitas dengan satu ketrampilan saja melainkan suatu aspek menyeluruh yang harus dikembangkan secara maksimal agar bisa menjadi manusia dewasa dan pendidikan itu bisa dimulai dari saat lahir. Apa yang saya baca tentang pendekatan Montessori ini tidak berbeda jauh dengan hasil pengamatan yang sedang saya lakukan di klinik bersalin tempat saya berkarya sebagai seorang psikolog muda.
 

Selanjutnya saya mencari informasi tentang pelatihan pendekatan Montessori. Dari informasi yang saya temukan (perlu diketahui era itu internet belum secanggih saat ini, mas google belum juga lahir di semua penjuru dunia seperti saat ini) dari media cetak luar negeri saya temukan informasi pelatihan pendekatan Montessori mayoritas berasal dari Inggris karena itu saya pikir tokoh Montessori ini adalah wanita yang berasal dari Inggris apalagi pusat-pusat pelatihan pendekatan Montessori waktu itu banyak yang ditemukan di Inggris dan pelatihan pendekatan Montessori di negara tetangga seperti Singapura juga berafiliasi dengan institusi yang berasal dari Inggris.
 

Singkat cerita pada saat saya berhijrah ke Italia tepatnya tinggal di kota Roma, barulah mata saya terbuka bahwa Montessori dengan nama lengkap Maria Montessori itu adalah seorang tokoh wanita penting di Italia yang dilahirkan di Chiaravalle, sebuah kota di wilayah Ancona pada tanggal 31 agustus 1870 dan sejak berusia lima tahun juga diajak berhijrah ke kota Roma oleh kedua orang tuanya. Bagaikan pepatah 'pucuk dicinta ulam tiba' keinginan mengenal Montessori dan metode pendekatannya tidak perlu lagi saya cari di tempat yang jauh. Di kota ini saya tinggal dan di kota ini pula Maria Montessori mengawali perjuangan, penelitian, eksperimen dan mencanangkan reformasi sistim pendidikan dari Italia hingga ke seluruh penjuru dunia.
 

Maria Montessori menurut saya sebagai tokoh wanita yang unik, heroik, peka terhadap misi hidupnya dan luar biasa kecerdasannya. Membaca dan mengikuti perjalanan hidup Maria Montessori dari buku tulisan Rita Kramer1 berjudul "Maria Montessori: A Biography" tampak sekali sejak kecil Maria Montessori selalu berpemikiran berbeda dari anak-anak seusianya. Sikapnya yang selalu melawan arus sering membawa Maria sebagai wanita sering diancam dengan mitos gender. Sebagai wanita keturunan bangsawan dari kelompok Marchese yang terkenal akan kelebihan intelektualnya Maria oleh ayahnya sering digiring untuk tidak perlu memiliki cita-cita tinggi, bersekolah tinggi sebab secara strata ekonomi hidupnya sudah amat sangat terjamin apalagi Maria adalah anak semata wayang. Ayahnya bahkan berharap Maria hanya masuk ke sekolah pendidikan guru saja sambil menunggu kedewasaannya untuk berkeluarga dan menjadi ibu rumah tangga seperti umumnya wanita bangsawan lain.
 

Saat Maria mulai menyukai belajar muncul minatnya yang sangat besar pada ilmu matematika oleh karena itu dengan merajuk kepada ibunya Maria meminta untuk didaftarkan ke sekolah teknik bukan ke sekolah pendidikan guru. Dari situlah perjuangan Maria sebagai wanita yang harus hidup bersaing dengan kaum lelaki dimulai dan dari pengalaman-pengalaman sering dilecehkan oleh teman-teman sekelasnya menjadikan Maria memiliki pribadi yang kuat dan peka akan persamaan hak dan emansipasi sebagai wanita. Saat memahami misi hidupnya Maria menjadi pejuang yang tak kenal lelah dan tidak pernah memiliki rasa takut meski ada kalanya dia juga merasa tidak sanggup melawan arus terus menerus dan menjadi berbeda sendirian. Pada saat situasi itu datang sering di hadapan Maria muncul suatu pemandangan yang menyentuh jiwanya yang paling dalam sehingga Maria merasa dikuatkan untuk bertahan dalam panggilan hidupnya. Di sinilah saya menjadi kagum atas ketegaran hati seorang wanita yang bernama Maria Montessori meski jalannya berliku dan tidak mudah, dia tidak pernah berputus asa dan mengeluh.
 

Keputusan Maria menjadi seorang dokter sebenarnya juga bukan sebuah keputusan yang populer dan sekali lagi tidak didukung oleh ayahnya. Tetapi keteguhan Maria dan keberhasilannya menjadi lulusan wanita pertama dari Universitas "La Sapienza" Roma dengan predikat terbaik, mampu meluluhkan hati sang ayah sebaliknya Alessandro Montessori menjadi bangga atas apa yang sudah dicapai oleh anak semata wayangnya itu.
 

Karier sebagai dokter tidak membuat Maria terlena, secara ekonomi Maria menjadi mandiri dan kecerdasan serta popularitasnya membuat Maria dilibatkan pada banyak penelitian khususnya yang berhubungan pada anak-anak tunagrahita. Minatnya yang semakin berkembang dan kuat untuk memahami ilmu pendidikan dan psikologi eksperimen untuk anak-anak membuat Maria meninggalkan profesinya sebagai dokter. Suatu keputusan yang mengejutkan baik bagi keluarga dan teman-teman seprofesinya!! Tuhan sungguh baik pada saat dia memutuskan untuk meninggalkan profesinya sebagai dokter dan ingin berkonsentrasi penuh pada pendidikan anak melalui penelitian dan eksperimen Maria mendapatkan tawaran tempat untuk membuka "casa dei bambini" atau "children house" atau "rumah untuk anak-anak" yang pertama pada tanggal 6 Januri 1907. Tepatnya di Via dei Marzi no. 53, daerah San Lorenzo, Roma. Tentu saja tempat bersejarah yang menggemparkan masyarakat dunia dengan sebutan "anak ajaib" ini tidak luput dari kunjungan saya.
 

Selain "casa dei bambini" yang kemudian tersebar hampir di seluruh eropa, asia lewat India dan amerika ada satu tempat yang tidak luput juga dari kunjungan saya yaitu Opera Nazionale Montessori (ONM). Di tempat inilah saya mempelajari pendekatan Montessori untuk anak usia 0 hingga 3 tahun. ONM adalah asosiasi yang menjadi wadah pelatihan pendekatan Montessori pertama yang dibentuk oleh Maria Montessori atas kesepakatan dengan Mussolini pada tahun 1924. Hanya saja karena misi mereka tidak sejalan, Montessori meninggalkan asosiasi ini dan pada tahun 1929 pada saat "Kongres Montessori" di Copenhagen mencanangkan suatu asosiasi baru bersama anak semata wayangnya Alessandro Montessori dengan nama Association Montessori Internationale (AMI). Sementara ONM atas dukungan dari pemerintah Italia sebagai bagian dari sejarah ditata ulang pada tahun 1987 hingga sekarang menjadi asosiasi resmi pelatihan pendekatan Montessori bersama dengan AMI dan asosiasi-asosiasi Montessori lain di dunia.
 

Maria Montessori tidak pernah mengatakan bahwa pendekatan yang dibuatnya sebagai suatu penemuan "metode pendidikan" melainkan sebagai "pendekatan yang membantu mengembangkan kepribadian manusia untuk mencapai kemandiriannya"2. Oleh karena itu mendidik anak-anak artinya mendidik manusia sesuai tugas-tugas perkembangannya tanpa mengubah kepribadian manusia itu.

Salam

Agustina Prasetyo
 

1 Kramer, R. (1988). Maria Montessori: A Biography. Massacusetts:Addison-Wesley Publishing Company, Inc

2 Montessori, M. (2007). The Formation of Man. The Montessori Series: Montessori-Pierson Publishing Company, Amsterdam, The Netherlands.